Header Ads

Wakatobi Dan Lampu Harapan Santri Pondok Pesantren Babussalam




Kemarin sore, saya bersama rekan juga anak-anak sibuk memasang lampu sorot di pesantren.
Memang sudah lama pesantren sangat gelap jika malam, karena terbatasnyapenerangan yang kami miliki.
Alhamdulillah, dari dana yang di donasikan para donatur bisa kami belikan untuk lampu di lapangan kami.
Bukan main, anak-anak sangat semangat memasang lampu. Karena beberapa anak selalu mengeluh takut dan terasa horror jika malam. 

Sudah hampir 3 hari kami mengandalkan Lyadi si ahli listrik, santri kelas 11 yang pintar urus mengurus masalah elektronik dan listrik. Apapun bisa dikerjakan oleh Lyadi. 

Di sela-sela kesibukan mengurus perlampuan di pesantren dia masih sempat membantu pernikahan kerabatnya sepulang sekolah dan kembali lagi ke pesantren hingga malam.

Di sela-sela memasang lampu di masjid, ada percakapan yang lucu dan cukup menyentuh bagiku antara aku dan santri laki-laki. Karena seringnya mereka pergi ke laut, aku spontan bilang pada mereka ingin mencoba udang karang dan lobster. Tak disangka, keinginanku disambut mereka.

"Tenang ibu guru, bilang saja apa maunya ibu guru. Udang karangkah, kepitingkah, cumi-cumi, sampai gurita akan kita carikan." Kata La iman. Si anak laut yang tak bisa absen sehari pun untuk pergi ke laut.
"Bener ya kalian mau bawakan untukku?" Tanyaku lagi.

"Iya ibu guru, apapun yang ibu mau kita carikan. Asalkan.... Ibu jangan pulang." Kata La iman lagi.
Aku hanya tertawa. 

"Iya ibu guru, kita Carikan itu lobster asal ibu jangan pulang ya." Sahut la fijay padaku.
"Pulang? Lah memang aku mau pulang kemana?" Tanyaku pura-pura tak tahu.
Tak ada satupun dari mereka yang menjawab. 

"Tenang bu guru, besok kita carikan untuk ibu guru." Kata mereka
Sejujurnya, lagi lagi aku takut ketika mereka memberikanku syarat agar tak pulang. Hatiku masih kalut dan takut.
Membuatku selalu takut membayangkan jika nantinya aku benar-benar harus meninggalkan mereka untuk kembali ke Bandung.
Setelah semua lampu dipasang dan kita nyalakan, anak-anak mulai bersahut-sahutan tanda bahagia
"Cantikno ibu guru lapangan kita.."
"Iyo ibu guru, cantiknyalah. Kenapa tidak dari dulu.."
"Bagusnya bu guru toh, jadi kita bisa main takraw kalau malam"
Melihat mereka senang, membuatku mengerti. Kebahagian mereka sangat sederhana, tapi bisa menularkan kebahagiaan yang besar.
Ku serahkan pada Mu rencana yang paling baik untukku Ya Allah 😊


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.